Kearney Klaim Jakarta Jadi Kota Terdepan di Indonesia
Senior Principal Kearney, Rohit Sethi (kiri) dan Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso usai memaparkan hasil temuannya. (Foto: Kearney)

Kearney Klaim Jakarta Jadi Kota Terdepan di Indonesia

JAKARTA, iNTREN – Indonesia memahami bahwa kota merupakan garda terdepan dalam persaingan global. Saat ini, Jakarta telah lebih dulu berjalan ke arah tersebut. Kearney, firma konsultansi manajemen global, menghadirkan Global Cities Framework, sebuah peta jalan komprehensif untuk meningkatkan daya saing global sebuah kota melalui delapan area keunggulan.

Framework atau kerangka ini dirancang untuk mengarahkan kota-kota memiliki kesiapan global yang lebih tinggi, dan dibangun berdasarkan metrik dari Global Cities Index (GCI) tahunan milik Kearney, yang melakukan pemeringkatan kota-kota paling terkoneksi dan berpengaruh di dunia yang telah dilakukan sejak tahun 2008.

Kerangka yang diterbitkan oleh Kearney ini dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam mendorong transformasi perkotaan yang semakin mendesak seiring dengan proyeksi 60 persen penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan pada tahun 2025 menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Maka, transformasi perkotaan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Seiring dengan pertumbuhan wilayah perkotaan, daya saing tidak lagi hanya terbatas pada tingkat lokal, namun harus mencakup skala global. Dalam GCI 2024 oleh Kearney, tiga kota di Indonesia, yakni Jakarta (peringkat 74), Surabaya (148), dan Bandung (153) telah masuk dalam peringkat jajaran kota global. Peringkat ini sekaligus menunjukkan adanya kesenjangan antara performa saat ini dan potensi nilai tambah yang dapat dicapai melalui desain kota yang holistik dan implementasi strategi kota yang tepat.

Menjembatani kesenjangan ini berarti mengubah tantangan perkotaan menjadi peluang nasional, bahkan global, untuk membuka nilai ekonomi bagi kota dan warganya. Sebagai contoh, Jakarta yang mampu menyumbang 17 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, terutama saat investor barat mulai melakukan diversifikasi portofolionya dari China, Indonesia berada pada posisi yang strategis untuk menarik investasi ke kota-kota yang tengah berkembang. Maka, pembangunan perkotaan di Indonesia kini bukan hanya menjadi kebutuhan sosial, tetapi juga peluang investasi yang penting.

Kota-kota di Indonesia perlu melakukan pembaruan diri untuk meningkatkan daya tarik di tengah lanskap kota global yang sangat kompetitif, baik dalam menarik investasi maupun sumber daya manusia terbaik.

Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso mengatakan, Global Cities Framework yang mereka hadirkan telah merinci elemen-elemen penting dari keunggulan perkotaan yang ditujukan untuk memberdayakan kota agar mampu berkembang secara global. Namun, keberhasilan implementasinya bergantung pada tiga faktor utama.

“Yakni, memastikan ketersediaan sumber pendanaan yang berkelanjutan dan beragam, membangun pipeline  sumber daya manusia yang kuat, serta siap menghadapi masa depan untuk memimpin transformasi di lapangan,” kata Shirley.

Global Cities Framework dari Kearney yang disebutkan dalam studi “Bridging a Fragmented World: The Road to Becoming a Global City”, merupakan pendekatan strategis yang dirancang untuk meningkatkan daya saing kota dan membentuk pusat-pusat pengaruh global yang tangguh. Kerangka ini dibangun berdasarkan metrik dari GCI tahunan milik Kearney, dan dikembangkan oleh tim Kearney Jakarta yang dipimpin oleh Shirley dan Rohit Sethi, bekerja sama dengan National Transformations Institute (bagian dari jaringan Kearney Foresight).

Global Cities Framework disusun berdasarkan tiga komponen utama, yakni visi dan misi, beberapa pilar penting, serta enabler atau faktor pendukung. Kerangka ini berfokus pada delapan area keunggulan, yaitu: bisnis dan ekonomi, masyarakat dan tenaga kerja, pariwisata dan branding, lingkungan dan keberlanjutan, infrastruktur dan mobilitas, riset dan inovasi, serta tata kelola, institusi, dan pembiayaan.

“Inisiatif ini bukan sekadar konsep. Kerangka ini sudah menjadi panduan dalam transformasi Jakarta menuju peringkat 20 besar Kota Global pada tahun 2045, dan 50 besar pada tahun 2030. Kami mengucapkan selamat kepada Jakarta atas peluncuran strategi dan implementasi yang sedang berjalan. Kami juga ingin melihat lebih banyak kota di Indonesia mengikuti jejak ini,” ujar Shirley.

Kota-kota seperti Tokyo, Singapura, dan Shanghai yang berada di peringkat 10 besar GCI Kearney menjadi contoh nyata bagaimana strategi kota yang kuat dapat diterjemahkan menjadi daya saing global. Kota-kota tersebut menghadapi tantangan serupa dengan Indonesia, seperti pertumbuhan urbanisasi yang pesat dan kebutuhan infrastruktur yang semakin besar, menjadikan kebangkitan kawasan Asia Pasifik (APAC) semakin relevan.

Masuknya Shanghai ke jajaran 10 besar mencerminkan kepemimpinan APAC yang semakin kuat. Menariknya, tujuh dari delapan kota dengan peningkatan tercepat dalam satu dekade terakhir menurut GCI berasal dari China yang didorong kuat oleh aktivitas bisnis dan pengembangan sumber daya manusia. Hal ini mencerminkan tujuan pembangunan Indonesia, yang juga menitikberatkan pada pemanfaatan bonus demografi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Senior Principal Kearney, Rohit Sethi mengatakan, daya saing kota tidak hanya diukur dari kekuatan ekonominya. Kota-kota yang paling sukses adalah mereka yang mampu menciptakan nilai dalam berbagai aspek, mulai dari tata kelola, infrastruktur, keberlanjutan, budaya, hingga kualitas hidup.

“Di tengah dunia yang semakin terkoneksi dan mengalami urbanisasi yang pesat, setiap kota harus mampu merumuskan proposisi nilai uniknya yang dapat melibatkan kontribusi aktif dari warga, pelaku usaha, dan komunitas. Dalam konteks Indonesia, hal ini berarti bahwa Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota lainnya perlu merancang peta jalan transformasi yang disesuaikan, berdasarkan kekuatan dan potensi masing-masing,” katanya.

Perubahan global memberikan banyak pelajaran berharga. Berikut adalah beberapa wawasan utama dari kota-kota unggulan yang menunjukkan ambisi visioner serta pendekatan praktis dalam meningkatkan daya saing perkotaan:

  • Bisnis dan Ekonomi: Pelabuhan Tanjung Pelepas (PTP) di Johor, Asia Tenggara, yang pada Mei 2024 menangani lebih dari 1 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs) dalam satu bulan merupakan contoh sukses pengembangan wilayah pesisir. Selain itu, kota-kota di kawasan APAC seperti Singapura dan Hong Kong terus menempati peringkat teratas dalam hal iklim usaha.
  • Masyarakat dan Tenaga Kerja: Peningkatan daya saing tenaga kerja telah dilakukan melalui berbagai inisiatif, termasuk Tech.Pass di Singapura dan program Startup Visa di Fukuoka yang merupakan bagian dari National Strategic Special Zone pemerintah Jepang. Penanganan gaya hidup tidak sehat juga menjadi aspek penting dalam meningkatkan kesehatan publik, dengan model yang sukses secara global seperti Healthy Living Master Plan di Singapura dan pusat kesehatan kota di Tokyo.
  • Pariwisata dan Branding: Sebuah kota dapat meningkatkan kualitas dan ketersediaan hiburan dengan memperkuat daya tariknya sebagai destinasi wisata. Sebagai contoh, Bangkok memanfaatkan nighttime economy dengan memperpanjang jam operasional bisnis, meningkatkan keamanan, dan lainnya. Michelin Guide Thailand yang didukung pemerintah juga telah mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan investasi kuliner kelas atas.
  • Lingkungan dan Keberlanjutan: Kota-kota padat penduduk yang menghadapi tantangan lingkungan dapat mengambil pelajaran dari Tokyo. Kota ini berhasil mengurangi risiko banjir dan tanah longsor akibat urbanisasi yang pesat dan curah hujan tinggi melalui infrastruktur yang inovatif.
  • Infrastruktur dan Mobilitas: Sebuah kota global membutuhkan infrastruktur digital yang tangguh untuk memenuhi tuntutan teknologi yang terus meningkat. Malaysia memberikan contoh yang baik untuk sektor ini, yakni melalui Digital Nasional Berhad yang diluncurkan pada 2021 untuk membangun wholesale network tunggal nasional.
  • Litbang dan Inovasi: Jepang menjadi contoh pendekatan yang terstruktur dan berdampak tinggi untuk pendanaan riset dan pengembangan (R&D) institusional melalui lembaga seperti Japan Science and Technology Agency. Sementara itu, Thailand memberikan insentif kuat dari sektor swasta, termasuk pembebasan pajak hingga 13 tahun, depresiasi yang dipercepat, dan lainnya.
  • Tata Kelola, Kelembagaan, dan Pembiayaan: Melampaui pembiayaan dari anggaran negara dan membentuk unit-unit khusus yang selaras dengan prioritas tematik dapat mempercepat kemajuan di bidang-bidang strategis. Misalnya, kantor ketahanan iklim seperti yang dimiliki Tokyo, Singapura, atau London dapat menjadi penggerak utama inisiatif keberlanjutan.

“Kami percaya bahwa kota-kota ini memiliki kemampuan untuk menentukan arah globalnya sendiri dengan berfokus pada elemen-elemen utama keunggulan perkotaan, sebagaimana yang dirumuskan dalam Global Cities Framework kami. Kerangka ini dirancang untuk memberdayakan kota agar mampu berkembang secara global. Namun pada akhirnya, kesuksesan sejati sangat bergantung pada kolaborasi yang kuat antara para pemangku  kepentingan, baik dari sektor publik maupun swasta, lebih dari sekedar visi yang berani dan proposisi nilai yang jelas,” ujar Rohit.

Contoh-contoh di atas bukanlah sekadar sumber inspirasi, tetapi juga menawarkan peta jalan yang nyata. Dengan kepemimpinan yang inklusif dan jelas, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan yang kuat di mana melibatkan kementerian, lembaga pemerintah, serta perusahaan swasta dan publik, transformasi perkotaan Indonesia dapat bergerak dari sekadar ambisi menuju aksi nyata. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *