BOYOLALI, iNTREN – Ketersediaan sayuran segar dari petani lokal yang dipasok ke retail modern masih cukup sulit ditemukan di Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya Kota Balikpapan. Selain pengelolaan dan ketersediaan lahan yang memadai, kendala yang dihadapi adalah tingginya biaya pengemasan.
Dalam Capacity Building Wartawan 2025 garapan kantor Bank Indonesia Perwakilan Kota Balikpapan di Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng), 7-10 September 2025, awak media berkesempatan melihat langsung geliat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satunya Aspakusa Makmur yang berlokasi di Kilometer 8 Jalan Raya Boyolali-Solo, Kabupaten Boyolali, Jateng. Aspakusa merupakan akronim dari asparagus, kucay, dan sayuran.
Mengunjungi pelaku UMKM dilakukan dalam rangka menambah literasi para jurnalis dalam mengedukasi masyarakat melalui ilmu yang diperoleh, serta bermanfaat untuk Kota Minyak.
Pengelola Aspakusa Makmur, Dewi Lestari Pujiastuti mengatakan, Aspakusa Makmur merupakan tempat pengemasan sayuran. Di mana, sayuran tersebut dikumpulkan dari hasil pertanian kelompok tani di daerah tersebut. Setelah dikemas secara rapi, sayuran tersebut dipasarkan ke retail modern di berbagai daerah di Indonesia.
“Jadi kami bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali, kami diminta untuk mengesplorasi semua hasil petani yang berada di Boyolali. Ada lima kelompok tani dengan total jumlah petani mencapai 214 orang,” ucap Puji.
Sayuran dikemas dengan menggunakan alat khusus, mulai dari pencucian hingga proses memanfaatkan udara di sekitar oksigen (O2) yang diubah menjadi ozon (O3), sehingga berfungsi menjaga kesehatan sayuran, mengurangi menghambat bakteri pembusukan sayuran, serta menghilangkan pestisida agar sayuran tidak terkontaminasi udara. Sehingga kesegaran sayuran terjaga. Ada 80-100 jenis sayuran dengan komoditas utama yaitu asparagus dan kucay.
Dia menjelaskan, hasil pertanian ini dipasarkan ke Malang, Solo, Yogyakarta, hingga Semarang. Dalam seminggu, penjualan sayuran premium ini berkisar 1-2 ton. Proses distribusi pun menggunakan truk pendingin agar sayur tetap segar.
Menurut Dewi, semua petani yang tergabung dalam kegiatan ini mendapatkan banyak keuntungan. Selain semua sayurannya terjual, juga menghindari tengkulak. Sehingga harganya terjaga.
“Kami potong kompas ke petani. Barangnya (sayuran, Red.) langsung dikirim ke supermarket, selain itu kesegaran sayuran dan harganya terjaga,” ungkapnya. (***)
Editor: Guntur Marchista Sunan

